Malam ini aku brenti di warung buat bli makan malam. Mas yang jual lagi nglayanin pelanggan yang lain. Bukan makanan mewah sih, yang penting kenyang dan bergizi. Dia jual nasi rames, oseng tempe, teri dsb. Sambil berdiri di depan dagangannya aku ngliat pengunjung yang lain.
Yang ini beda dari pengunjung yang kebanyakan datang, ambil nasi lalu duduk bersila di atas tikar, makan sambil nikmatin jalanan Jogja. Pengunjung tsb datang menghampiri tempat sampah pojokan. Jelas dia bukan mo bli nasi. Pemulung, kalo orang bilang. Kakek-kakek, kurus, memanggul karung berisi botol plastik, yang biasanya kita buang kalo isinya habis. Yang lainnya pada makan, dia mungkin belum makan dari tadi. Ngga ada orang yang pengen jadi pemulung. Di saat yang lain (yang pada lagi makan) pura-pura ngga ngeliat, dan aku juga lagi bengong ngliatin dia,,,seorang cewek berkaos putih dan celana panjang batik yang sudah selesai membayar ke empunya warung, mendekati dia dan memberikan bungkusan nasi yang baru saja dibelinya. Kakek itu terhenti dan memandangnya. "Pak, niki sekul ngge njenengan, di dhahar nggih,,,(Pak, ini nasi untuk Bapak, dimakan ya)" begitu kira-kira yang kudengar dari cewek itu. Kakek itu mengangguk dan menerima bungkusan itu. ngga kedenger ucapan trimakasih dari bapak itu, tapi itu memang yang bukan cewek itu inginkan. cewek itu lalu kembali ke warung dan memesan nasi yang seperti itu lagi untuk dirinya. Kakek itu lalu pergi membawa nasi yang masih hangat itu. tapi dia ngga pergi jauh, dia duduk di dekat warung, tersembunyi di trotoar dan memandang lagi cewek itu yang pergi dengan motornya. Cewek itu tersenyum dan mengangguk ramah pada kakek itu. Ya, cuma bahasa mata..karena kakek itu juga ngga mengalihkan pandangannya dan dia juga membalas senyumannya.
Aku melanjutkan perjalananku dengan motor sambil mengingat kejadian itu. Cinta ngga perlu diomongin. Cinta itu ngasih, titik! Kayak di warung tadi, apa cuma cewek itu yang ngliat kakek pemulung? engga lah, yang laen yang pada makan juga liat. Tapi cuma satu yang gerak dan ngasih. Biarpun dia pemulung, dia juga manusia, sama seperti kita. Aku jadi sangat bersyukur aku bisa makan dan tidur di tempat yang hangat. Aku ngga munafik, sering ngebuang makanan, mungkin di saat aku bingung milih menu apa di restoran, saudaraku yang lain bingung ngga makan berhari-hari. Di saat aku percaya dunia ini kejam, malam ini aku ngliat cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar